
[Susah betul nak cari buku ni, tak jumpa pun di mana-mana cawangan-cawangan MPHdan Kinokuniya - !--moreakhirnya jumpa di Borders, Times Square. Itupun dan tinggal last stock. Pernah jumpa kat Mydin Subang Jaya, tapi keadaan buku itu sudah sangat teruk.]
Di dalam buku Life Matters, pasangan suami isteri Merrill telah menulis
Along with several major articles, two books—Two Incomes and Still Broke by Linda Kelley, and Shattering the Two Income Myth by Andy Dappen—suggest that in most cases, financial reasons alone do not justify the second income. In simple terms, the second income usually needs to reach $30,000 before even one dollar is contributed to spendable income in the family. And after that, for every three dollars earned, only one dollar is actually spendable income.Here are some of the reasons:
- The second income puts you into a higher tax bracket.
- You have to pay for extra goods and services—things you wouldn’t have to buy if you didn’t have the job, such as:
- work-related clothes and tools
- child care (for families with children)
- additional transportation
- meals out
- home services (house cleaning, lawn care, home repair, shopping help)
- convenience shopping items (microwave dinners, packaged “quick fix” and deli foods)
- guilt gifts (“Mom and Dad will both be gone, so we bought you this new video game”)
- You engage in higher (gross income) spending, even though the disposable income doesn’t go up that much (“Look—you’re making $50,000; I’m making $45,000. Together, we’re making $95,000! We can afford this!”)
- In many instances, the only thing the second income really “adds” to the family is the tremendous stress of trying to handle home and family needs with both parents gone from home. The real tragedy comes when a parent who doesn’t want to work ends up working, and—bottom line—there’s no economic gain.
Bagaimana pula kesan isteri yang bekerja terhadap anak-anak?
Dr Yusof al-Qaradhawi menyebut di dalam bukunya Malamih al Mujatama’ al-Muslim allazi Nansyuduhu (Terj. Ciri-ciri unggul masyarakat Islam yang kita idamkan, Pustaka Syabab),
Realitinya, kebanyakan wanita yang bekerja menggunakan khidmat wanita-wanita lain untuk bekerja sebagai pengasuh anak-anak mereka atau menguruskan rumah mereka. Ini bermakna rumah, memerlukan kepada seorang wanita untuk menguruskannya. wanita yang paling baik untuk tugas ini ialah suri serta ratunya berbanding dengan wanita luar yang kebanyakannya tidak diketahui asal-usul, akhlak, pegangan agama, bahasa, pemikiran dan adatnya.
Di tempat lain pula beliau menyebut
kasih sayang, hati dan perhatian seorang ibu tidak akan dapat diganti dengan orang gaji atau pengasuh. Bagaimana mungkin anak-anak akan memperolehinya dari seorang ibu yang menghabiskan waktu siangnya di tempat kerja, sementara apabila dia pulang, dalam keadaan keletihan, kelesuan dan ketegangan. Keadaan fizikal dan psikologinya tidak mengizinkannya untuk memberi didikan yang baik terhadap anak-anaknya.
Sebuah keluarga di mana pasangan suami-isteri bekerja haruslah menetapkan matlamat, sampai bila isteri akan bekerja. Isteri seharusnya bekerja hanya sekadar untuk membantu meringankan beban suami dan bukannya mengejar kerjaya atau menambahkan kewangan keluarga walaupun pendapatan suami sudah mencukupi. Trend isteri bekerja keras untuk mengejar pangkat, kenaikan gaji dan bonus pada tiap-tiap tahun akan menyebabkan suami dan anak-anak yang menjadi mangsa.


0 responses so far ↓
Tidak ada komen buat masa ini...Sila isikan borang dibawah ini.